Pagi-pagi sudah bangun tidur karena kita dijadwalkan berangkat jam 8 sama si Phong. Huh.. Ъќ kepagian apa?? Ini kan liburan! Berarti kudu beres-beres trus sarapan dulu di hotel. Daripada bolak-balik naik turun lift, saya dan adek saya langsung bawa koper kita turun, baru sarapan. Untung grup saya yang lain nggak ada yang hobi molor kaya karet, jadinya lebih kompak. Pas jam 8, dikomando naik ke bus (bus kita warnanya ijo kaya bus umum di Joyoboyo :D). Disini bell-boy hotelnya pada berebut angkutin tas kita ke bus, dengan harapan kita ngasih tip ke dia. Emang di Vietnam masih membudaya yang namanya tipping. Beda sama di Indo yang sudah mulai menggencarkan promosi No-Tipping di hotel-hotel.

Tujuan pertama kita adalah Kuil Van Thuy Tu.

Prasasti Van Thuy Tu
Prasasti Van Thuy Tu

Di dalam kuil ini ada satu ruangan yang khusus untuk menyimpan tulang-belulang paus gedeee banget. Setelah itu kita keluar kuil, balik ke bus. Waktu itu saya mengamati penduduk sekitar lagi asyik menganyam sesuatu. Bentuknya setengah lingkaran, yang ternyata adalah sampan tradisional Vietnam. Yang sudah jadi, mereka lumuri dengan cairan coklat tua yang gunanya untuk menyumbat lubang diantara anyaman rotan supaya air tidak tembus kedalam sampan. Sesudah itu dijemur hingga lapisannya kering. Saya kira itu pernis. Dan kata Phong, itu adalah “cow shit” alias kotoran sapi!! Uugh….!!

Sampan ala Vietnam coated with Cow Sxxt :D
Sampan ala Vietnam coated with cow sxxt 😀
Van Thuy Tu
Van Thuy Tu
Kuil Van Thuy Tu
Kuil Van Thuy Tu
Fosil Ikan Paus Raksasa
Fosil Ikan Paus Raksasa

Dari situ, kita lanjut ke gurun pasir Mui Ne yang nggak terlalu jauh dari kuil tadi. Hah? Gurun?? Iya, di daerah ini terkenal dengan desert nya. Ada 2 tempat, Red Sand Dunes dan White Sand Dunes.

Gate Mui Ne
Gate Mui Ne

Gurun Dan Lautan Di Mui Ne3.9

Pas nyampe, yang keliatan baru padang rumput ijo yang tumbuh di situ. Panasssss. Kita jalan naik melewati padang rumput tadi, baru deh keliatan gurunnya. Dari atas kaya kepala botak gitu. Sekelilingnya ijo, yang ditengah Ъќ ada tanamannya, hamparan pasir semua. 😀

Bagus sih, apalagi pas noleh ke belakang, ternyata kita bisa lihat lautan biru. Waahhh, kok bisa Чάά ªϑª gurun pasir dikelilingin sama padang rumput dan laut?? Baguusssss!

Walaupun panas, saya dan teman-teman sempat main plorotan di pasir pake alas plastik tebal yang kita sewa dari anak-anak kecil yang tinggal di dekat situ. Saya lupa berapa sewanya. Naik ke tempat paling tinggi trus slide ke bawah. Asyikkk.

Sand slides at Mui Ne
Sand slides at Mui Ne

Kata si Phong, di Vietnam Ïиï banyak pasir berwarna-warni seperti yang di Mui Ne. Bahkan ada yang warnanya ijo tua, merah, dll. Tersebar diseluruh Vietnam. Sampe ada kerajinan sand painting (lukisan pasir) yang konon cuma satu keluarga saja yang menguasai, keluarga Hang Chau Sa.

Puas main pasir dan berjemur, kita duduk2 di warung depan gurun. Beli es kelapa muda. Segernyaaa.

Setelah itu kita diajak ke Fairy Stream. Apa lagi itu?? Saya pada awalnya terkejut pas dibawa masuk ke gang kecil yang kanan kirinya terdapat tong-tong besar berisi fermentasi fish-sauce. Disini semua makanan dimakan dengan campuran fish sauce. Lewat jalan ini, uhhh, baunya amisss banget! Yaiksss….apalagi saya sangat tidak suka ikan.

Dibelakang gang Ïиï, guide kita masuk ke dalam sungai yang airnya dangkal sambil menenteng sepatunya. Oh, OK, jalan2 di sungai. Pas mendekat, pinggiran sungainya kotorrrr. Banyak sampahnya. Hadehhh, apalagi Ïиï??! Mau nggak mau saya ngikut aja. Untung yang kotor cuma tempat kita turun tadi. Selebihnya enggak.

Pintu Masuk Fairy Stream ( Suoi Tien)
Pintu Masuk Fairy Stream ( Suoi Tien)

Air sungainya aja ngga sampe semata kaki. Dasar sungainya nggak berbatu, melainkan pasir halus berwarna hitam. Makin jauh kita jalan, dinding batu disekitar sungai makin tampak artistik. Indah. Perpaduan batu merah dan putih. Ïиï toh yang namanya Fairy Stream? Berarti fairy-nya kita dunk?? Hahah….

Dinding Batu Merah Fairy Stream
Dinding Batu Merah Fairy Stream
Fairy Stream
Fairy Stream
Me and Sis At Fairy Stream
Me and Sis At Fairy Stream

Selesai kecek-kecek di sungai, kita balik ke bus kita, menuju kota berikutnya. Di tengah perjalanan, kita mampir ke restoran buat lunch. Restonya rameee karena pas sama liburan kemerdekaan Vietnam tgl 2 September. Makanannya disini lumayan enak.

Resto at Phan Thiet
Resto at Phan Thiet
Es Teh Tawar ala Vietnam
Es Teh Tawar ala Vietnam

Dari Phan Thiet menuju Nha Trang memakan waktu kurang lebih 5 jam ( sebenernya bisa lebih cepet lagi asal supirnya orang Indo, terutama supir bus umum! Disini semua pengendaranya sabar-sabar and pelan-pelan, jadi perjalanannya makan waktu lamaaa :D).

Sepanjang perjalanan, pemandangannya bagus, di sebelah kanan dah keliatan lautnya. Pasirnya putih. Nha Trang ini adalah Bali-nya Vietnam, daerah wisata paling terkenal, terletak di sebuah teluk berair tenang. Di sekitar pantainya masih terdapat pulau-pulau kecil.

Jalanan Mulus Menuju Nha Trang
Jalanan Mulus Menuju Nha Trang

Sore harinya, kita nyampe hotel. AP Hotel, kamarnya bersih. Mandi dan beres-beres barang bawaan karena kita stay disini selama dua malam.

Kamarku di AP Hotel, Nha Trang
Kamarku di AP Hotel, Nha Trang

Jam 7 kita janjian dinner sama Phong. Makan di Gia Restaurant. Enak, tapi non-halal. Tempatnya outdoor, sempat ujan pula, untungnya cuman bentar.

Our dinner
Our dinner
Dinner di Gia Resto
Dinner di Gia Resto
Me and Sis @ Gia Resto
Me and Sis @ Gia Resto

Kelar makan, kita lanjutin liat-liat deretan toko di sekitar hotel. Saya beli short casual dan tank-top seharga VND 120.000 dan syal seharga VND 50.000. Kalo dirupiahkan, tinggal dibagi 2 dari harga Dong. It’s cheap ma! 😀

Kenyang dan capek bikin ngantuk datang lebih cepat. Kita balik ke hotel untuk menyiapkan tenaga buat besok. Dream of white sandy beach…..

To be continued in Part 4

Advertisements